Tempat Paling Mustajab Doa di Tanah Suci

Tempat Paling Mustajab Doa di Tanah Suci

Tempat mustajab untuk berdoa di tanah suci akan menjadi salah satu harapan para jamaah haji atau umroh datang ke tanah suci. Setiap pelaksanaan ibadah di tanah suci memiliki hitungan pahala yang berbeda dibandingkan dengan di tanah air atau di tempat lainnya. Begitupun dengan memanjatkan doa di tempat-tempat khusus yang akan dikabulkan oleh Allah SWT. Tidak jarang kerabat atau keluarga yang ditinggalkan di tanah air menitipkan doa kepada orang yang akan melaksanakan ibadah haji dan umroh. Tempat-tempat mustajab doa tersebut adalah :

  • Multazam
Tempat Paling Mustajab Doa di Tanah Suci
Tempat Paling Mustajab Doa di Tanah Suci

Multazam adalah sebuah dari Ka’bah, letaknya berada di antara hajar aswad dan pintu Ka’bah. Luasnya yang cukup kecil akan sedikit sulit untuk menempelkan tubuh dan tangan di multazam karena setiap jamaah memiliki keinginan yang sama untuk berdoa di multazam sehingga tidak jarang mereka harus berdesakan untuk mendapatkannya. Ikuti Program Umroh Murah Bintang 5.

Sebagai salah satu tempat yang bisa dikabul doa seperti dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, dari Ibnu Abbas RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Multazam adalah tempat dikabulkannya doa. Tidak satu pun doa seorang hamba di Multazam kecuali akan dikabulkan.

Tempat ini diyakini sebagai salah satu dari beberapa maqam ijabah yang ada di sekitar Baitullah, tempat yang makbul untuk berdoa. Asal katanya adalah iltizamuhu yang berarti merapatkannya. Rasulullah SAW merapatkan badannya di dinding Ka’bah antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah ini.

Dari Amr bin Syu’aib dari ayahnya berkata, “Saya tawaf bersama Abdullah ketika sampai di belakang Ka’bah, saya berkata, ‘Apakah kita tidak berlindung?’ Abdullah berkata ‘Kita berlindung kepada Allah dari Neraka.’ Ketika telah lewat saya menyentuh hajar dan berdiri diantara rukun (Hajar Aswad) dan pintu (Ka’bah) maka (Beliau) menaruh dada, wajah, lengan, dan kedua tangannya begini dan membentangkan lebar keduanya. Kemudian, berkata ‘Beginilah saya melihat Rasulullah SAW melakukannya.'” (HR Abu Dawud, Ibnu Majah).

Jika tidak bisa menempel seperti itu, berdoa di Multazam cukup berdiri dibelakangnya saja. Lagi pula, berdoa di tempat ini tidak merupakan bagian dari manasik haji maupun umrah, karenanya tidak perlu memaksakan diri, apalagi sampai “bertarung” mendapatkannya.  Esensi dari semua itu adalah doa karena memang sekitar Ka’bah banyak tempat untuk berdoa, apakah itu di belakang Maqam Ibrahim, Hijir Ismail, ataupun Multazam. Di sudut manapun dari Baitullah, insya Allah mustajab, asal berdoa dengan benar dan khusyuk.

Inilah tempat yang paling diburu jamaah haji dan umrah setelah mengerjakan thawaf. Saat sekeliling Ka’bah dipenuhi jamaah, tak mudah untuk mencapai Multazam. Setiap orang berusaha untuk mencapai tempat yang mustajab itu. Jamaah haji dan umrah pun berdoa dengan penuh kekhusyukan.  Bersimpuh memohon ampunan dan memanjatkan berbagai harapan kepada Sang Khalik.

  • Belakang Makam Ibrahim
Tempat Paling Mustajab Doa di Tanah Suci
Tempat Paling Mustajab Doa di Tanah Suci

Masih berada di sekitar Ka’bah adalah di belakang makam Nabi Ibrahim As. Setelah melaksanakan tawaf sebanyak tujuh putaran maka di sunahkan untuk melaksanakan sholat dua rakaat di belakang makam ini. Sebelum berdoa akan keinginan pribadi, terdapat doa khusus yang biasa di ucapkan sebelum dan sesudah sholat Sunnah. Dan keutamaan dari makam Ibrahim adalah akan di kabulkannya doa “Diantara keutamaan makam Ibrahim ialah di kabulkan nya setiap doa yang di pajatkan di sana” (di dalam kitab Qadhaya Al-Mar’ah di Al-Hajj wa Al-Umroh.

  • Hijir Ismail
Tempat Paling Mustajab Doa di Tanah Suci
Tempat Paling Mustajab Doa di Tanah Suci

Selain multazam, Hijir Ismail merupakan salah satu tempat yang di yakini mustahab untuk setiap doa yang di panjatkan. Letaknya berada diantara rukum syamanu dan rukun Iraqi. Letaknya dapat terlihat dengan jelas karena dibawahnya dibangun tembok setengah lingkaran dengan ketinggian yang rendah, dinamakan dengan Al-Hatim.

Ketika suku Quraisy memugar Ka’bah (606 M), mereka kekurangan dana untuk dapat membangun seukuran Ka’bah yang asli. Mereka mengurangi panjang tembok ke bagian utara sehingga Hijir Ismail semakin luas.  Oleh sebab itu, sebagian Hijir Ismail termasuk Ka’bah. Maka, orang yang melakukan tawaf harus mengitari Ka’bah dan Hijir Ismail. Tidak sah tawaf seseorang kalau ia mengitari Ka’bah dengan melewati gang antara Hijir Ismail dan Ka’bah.

Kalau seseorang ingin shalat didalam Ka’bah, cukup shalat di dalam Hijir Ismail ini. Seperti yang pernah diriwayatkan Siti Aisyah, “Aku pernah minta kepada Rasulullah agar diberi izin masuk Ka’bah untuk shalat didalamnya. Lalu, beliau membawa aku ke Hijir Ismail dan bersabda: Shalatlah di sini kalau ingin shalat di dalam Ka’bah karena Hijir Ismail ini termasuk bagian Ka’bah.”

Shalat di Hijir Ismail adalah sunah yang berdiri sendiri. Dalam arti tidak ada kaitan dengan tawaf atau umrah atau haji atau ibadah lainnya. Jadi, sebaiknya kalau sudah selesai tawaf dan akan melakukan sa’i, shalatlah di Maqam Ibrahim, terus lakukanlah sa’i tanpa shalat di Hijir Ismail. Kalau ada kesempatan lain baru lakukan shalat di Hijir Ismail dengan tenang. Karena Hijir Ismail ini juga termasuk tempat mustajab untuk berdoa, terutama yang persis di bawah pancuran (mizab).

Nabi Ismail terkenal dengan kisah sumur zamzam yang fenomenal. Ketika itu, Ismail ditinggalkan berdua dengan Siti Hajar oleh suaminya, Ibrahim AS, di salah satu tempat di Makkah. Kala itu, Makkah merupakan wilayah tandus tak berpenghuni karena tidak ada sumber mata air. Ibrahim meninggalkan Hajar dan Ismail karena harus melaksanakan perintah Allah.

Suatu saat, bekal kurma dan air yang ditinggalkan Nabi Ibrahim untuk istri dan anaknya habis. Si kecil Ismail terus menangis  karena dahaga. Siti Hajar yang tak tega melihat putranya dalam keadaan seperti itu menjadi kebingungan. Hajar berlari ke puncak Bukit Safa dan Marwah dengan harapan bisa melihat orang yang melintas dan meminta pertolongan. Tapi, hingga tujuh kali berlari, pulang-pergi dari puncak Safa dan Marwah tidak juga ditemui orang yang melintas. Terkait kejadian itu, HR Ibnu Abbas menyebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: Itulah (asal mula) sai yang dilakukan sekarang antara Safa dan Marwah.”

Terakhir, ketika kembali ke Bukit Marwah, Siti Hajar berdoa, “Berikanlah pertolongan kepadaku jika engkau mempunyai kebaikan.” Saat itulah terlihat malaikat Jibril.  Selanjutnya, malaikat Jibril mengais tanah dengan tumit kakinya. Tapi, dalam riwayat lain, disebutkan dengan sayapnya. Di tempat Jibril itu terpancarlah air. Demikianlah kisah sumber air zamzam.

Shafa dan Marwah

Shafa dan Marwah merupakan tempat untuk melaksanakan salah satu rangkaian ibadah haji dan umroh yaitu sa’I. dimana setiap jamaah akan berlari-lari kecil dari shafa ke marwah dan sebaliknya sebanyak 7 kali. Dalam pelaksanaan ibadah kali ini terdapat bacaan-bacaan khusus yang harus di bacakan ketika sedang melaksanakan sa’I dan setelah nya Jemaah bisa memanjatkan doa kepada Allah SWT sesuai dengan keinginan. Seperti hadits yang diriwayatkan oleh An-Nasa’i, dari Jabir dari Abdullah bahwa “Rasulullah SAW pergi menuju Shafa hingga melihat Ka’bah, lalu mengucapkan kalimat tauhid, tahmid dan takbir sebanyak tiga kali. Kemudian berdoa sesuai dengan apa yang beliau kehendaki.”

Raudhah

Tempat Paling Mustajab Doa di Tanah Suci
Tempat Paling Mustajab Doa di Tanah Suci

Jika tempat-tempat sebelumnya berlokasi di Mekkah, maka yang satu ini ada di Madinah yaitu di Masjid Nabawi disebut dengan Raudhah. Tepatnya berada diantara makam Rasulullah SAW dan mimbar nabi. Rasulullah SAW bersabda: “Tempat antara rumahku dan mimbarku adalah taman-taman surga,” (HR. Muslim)

Di tempat ini tidak sedikit jamaah yang berlomba untuk bisa berdoa sesuai keinginan mereka. Namun ada baiknya ketika berkeinginan untuk berdoa di tempat tersebut dengan cara yang baik dan tidak memaksakan diri. Ketika tempat tersebut dalam kondisi ramai dan sesak dengan jamaah lain, lebih baik untuk mengalah. Yang terpenting dikabulkan doa adalah berdoa dengan cara yang baik sesuai dengan tuntunan dan dengan khusyu dan Tidak menggang  kenyamanan para jemaah lainnya. Jadi tertiblah..