Cara Mencegah Kanker Ovarium Stadium 3 dan 4

stop kanker ovarium

Kanker ovarium adalah kanker yang tumbuh pada indung telur atau ovarium. Penyakit ini menduduki posisi ketujuh di antara jenis-jenis kanker yang paling umum menyerang wanita. Setiap tahunnya, ada sekitar 250.000 kasus kanker ovarium di seluruh dunia, yang menyebabkan 140.000 kematian per tahun.

Kanker ini dapat muncul pada segala kelompok usia, tapi umumnya terjadi pada wanita yang sudah masuk masa menopause atau berusia di atas 50 tahun.

Jenis-jenis Kanker Ovarium

Kanker ovarium dikelompokan menjadi 3 jenis, berdasarkan lokasi awal perkembangan kanker.

  • Tumor epitelial, sel kanker muncul pada jaringan pembungkus ovarium. Ini merupakan jenis kanker ovarium yang paling banyak terjadi.
  • Tumor stromal, kanker muncul pada lapisan di mana terletak sel-sel penghasil hormon. Jenis kanker ini termasuk jarang. Hanya sekitar 7 di antara 100 kasus kanker ovarium yang merupakan jenis ini.
  • Tumor sel germinal, kanker berkembang pada sel-sel penghasil telur. Jenis kanker ovarium ini cenderung terjadi pada wanita usia muda.

Gejala Kanker Ovarium

Kanker ovarium jarang menimbulkan gejala pada stadium awal. Kalaupun ada, gejala-gejalanya menyerupai konstipasi atau gejala pada iritasi usus. Oleh sebab itu, kanker ovarium biasanya baru terdeteksi ketika kanker sudah menyebar dalam tubuh.

Beberapa gejala yang umumnya dialami oleh penderita kanker ovarium adalah:

  • Perut selalu terasa kembung.
  • Pembengkakan pada perut.
  • Sakit perut.
  • Penurunan berat badan.
  • Cepat kenyang.
  • Mual.
  • Perubahan pada kebiasaan buang air besar, misalnya konstipasi (sulit buang air besar).
  • Frekuensi buang air kecil yang meningkat.
  • Sakit saat berhubungan seksual.

Penyebab dan Faktor Risiko Kanker Ovarium

Sama seperti kanker pada umumnya, penyebab kanker ovarium juga belum diketahui secara pasti. Ada beberapa faktor yang diduga bisa meningkatkan risiko seorang wanita untuk terkena kanker ini. Faktor-faktor tersebut meliputi:

  • Usia. Kanker ovarium cenderung terjadi pada wanita berusia 50 tahun ke atas.
  • Genetik. Risiko untuk terkena kanker ovarium akan meningkat jika memiliki anggota keluarga yang mengidap kanker ovarium atau kanker payudara. Begitu juga pada wanita yang memiliki gen BRCA1 dan BRCA2, yang merupakan mutasi genetic yang dapat diturunkan.
  • Terapi pengganti hormon estrogen (Esterogen Hormone Replacement Therapy), terutama bila dilakukan dalam jangka waktu lama dan dengan dosis tinggi.
  • Menderita sindrom ovarium polikistik (PCOS).
  • Tidak pernah hamil.
  • Mengalami kelebihan berat badan atau obesitas.
  • Mengalami siklus menstruasi sebelum usia 12 tahun dan menopause setelah usia 50 tahun.
  • Menjalani terapi kesuburan.
  • Merokok.
  • Menggunakan alat kontrasepsi IUD.

Baca juga :  Obat  Kanker Paru-paru

 Oleh karena itu, kaum perempuan untuk waspada, harus mengambil tindakan pencegahan, apa saja tindak pencegahannya?

1, pola makan seimbang. batasi makanan yang tinggi lemak hewani, protein tinggi, asupan makanan berkalori tinggi. Secara khusus untuk membatasi asupan lemak. Penelitian telah menunjukkan bahwa jika wanita pada makanan sehari-hari mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung lemak jenuh, lebih mungkin untuk terkena kanker ovarium. Makanan yang dapat mengurangi resiko kanker ovarium pada wanita, seperti sayuran, wortel, jagung, karbohidrat, vitamin A, vitamin C, makanan yang kaya akan serat, dll

2, pemeriksaan rutin. Wanita bisa melakukan pemeriksaan ginekologi secara teratur atau USG dapat mendeteksi berbagai penyakit ovarium, pengobatan dini dapat mencegah kista ovarium dan lesi lainnya terjadi,yang dapat menyebabkan kanker ovarium. Terutama pada wanita di atas 45 tahun, dianjurkan untuk 3 sampai 6 bulan sekali melakukan pemeriksaan ginekologi atau USG untuk deteksi dini kanker ovarium. Selain itu, bisa juga lakukan pemeriksaan terhadap kondisi diri sendiri yang juga membantu mencegah kanker ovarium, jika ada kembung, nyeri perut, perdarahan vagina dan gejala lain, segera lakukan pengobatan tepat waktu, dan harus perhatikan perbedaan dengan penyakit lain untuk menghindari misdiagnosis. Dalam pemeriksaan ginekologi, ditemukan pembesaran ovarium, dan tidak dapat didiagnosis dengan hanya 1 pemeriksaan, Anda harus menjadwalkan tindak lanjut, yang sangat penting untuk pencegahan kanker ovarium.

3, laktasi berkepanjangan. ASI yang diperpanjang untuk mencegah peran kanker ovarium hanya dalam jangka pendek (4-6 bulan) yang valid, lebih dari enam bulan menyusui, akan merangsang sekresi hipofisis oksitosin pada saat yang sama, juga akan meningkatkan produksi gonadotropin, untuk hal ini perlu diperhatikan.

4, penggunaan hormon. ahli Modern Cancer Hospital Guanzhou mengatakan, pencegahan kanker ovarium, wanita harus berhati-hati untuk menggunakan hormon. Banyak wanita memiliki gejala gangguan menstruasi, hormon yang biasa digunakan untuk mengatur menstruasi. Sebuah survei menemukan bahwa jika penggunaan jangka panjang hormon untuk mengatur haid, haid tidak teratur atau jangka panjang, cenderung menyebabkan peningkatan risiko kanker ovarium.

5, meningkatkan aktivitas fisik. Jumlah yang tepat untuk latihan fisik tidak hanya bersantai, suasana hati yang menyenangkan, tetapi juga membantu untuk meningkatkan daya tahan tubuh, sehingga tubuhtidak rentan terhadap penyakit.