Waspada Sindrom Metabolik Menyerang Anda

Sindrom Metabolik merupakan kombinasi gangguan kesehatan yang dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan pembuluh darah, penyakit gula (diabetes), dan stroke. Seseorang dengan setidaknya tiga dari lima faktor risiko dapat dianggap telah mengalami Sindrom Metabolik, yaitu kelebihan lemak di perut, trigliserid tinggi (lemak dalam darah), rendahnya kolesterol HDL (kolesterol “baik”), tekanan darah tinggi (hipertensi), dan gula darah tinggi (diabetes).

Akhir-akhir ini, angka kejadian Sindrom Metabolik meningkat dengan bertambahnya usia dan berat badan. Meskipun angka kejadiannya meningkat, sampai saat ini penyebab Sindrom Metabolik belum diketahui secara pasti. Suatu pendapat menyatakan bahwa penyebab utama dari Sindrom Metabolik adalah resistensi insulin. Resistensi insulin adalah suatu keadaan dimana pengambilan gula dalam tubuh yang dirangsang oleh hormon insulin pada tubuh berkurang sehingga mengakibatkan kadar gula dalam darah meningkat. Resistensi insulin mempunyai korelasi dengan timbunan lemak tubuh dan kejadian penyakit jantung dan pembuluh darah. Penjelasan diatas menjelaskan kepada kita bahwa pada dasarnya Sindrom Metabolik adalah kombinasi obesitas, gangguan kelainan lemak darah, kadar gula darah yang tinggi, dan tekanan darah tinggi.

Baca Juga: Cara memperbesar ukuran penis

Banyak pendapat yang mengungkapkan bahwa obesitas secara positif terkait dengan kepadatan massa tulang meningkat dan risiko patah tulang dapat dikurangi melalui peningkatan berat badan. Selain itu, kadar trigliserid darah yang tinggi dan rendahnya kadar kolesterol yang baik pada orang dengan obesitas bisa juga melindungi dari risiko patah tulang. Di sisi lain ada pengamatan klinis yang menyimpulkan hal yang berbeda, yaitu pada pasien diabetes menunjukkan kadar gula darah yang tinggi cenderung mengurangi kepadatan massa tulang dan bisa meningkatkan risiko patah tulang. Dengan demikian, kepadatan massa tulang dan risiko patah tulang pada pasien dengan Sindrom Metabolik dapat ditentukan oleh keseimbangan antara efek menguntungkan dari obesitas dan gangguan kelainan lemak darah dibandingkan dengan efek merugikan dari peningkatan kadar gula darah. Pada pengamatan klinis ini menyimpulkan bahwa sindrom metabolik bisa berhubungan dengan Osteoporosis. Osteoporosis adalah penyakit tulang yang mempunyai beberapa ciri yaitu massa tulang yang rendah, disertai perubahan jaringan tulang dan penurunan kualitas jaringan tulang yang akhirnya dapat menimbulkan kerapuhan tulang.

Banyak komplikasi dari Sindrom Metabolik yang perlu diketahui. Sindrom Metabolik berhubungan dengan penimbunan lemak pada hati, penyakit jantung koroner, gagal jantung, dan stroke. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa Sindrom Metabolik juga berperan dalam masalah gangguan tidur dengan kesulitan bernapas berulang kali saat tidur, kanker payudara, kanker usus, kanker kandung empedu, dan kanker prostat. Penelitian lain menunjukkan bahwa Sindrom Metabolik juga bisa menyebabkan gangguan mental.

The National Cholesterol Education Program-Adult Treatment Panel III (NCEP-ATP III) berpendapat bahwa Sindrom Metabolik adalah indikasi untuk melakukan gaya hidup yang ketat, meliputi diet, latihan fisik dan obat-obatan. Penurunan berat badan secara bermakna dapat memperbaiki Sindrom Metabolik. Aktifitas fisik dan pengurangan asupan kalori akan memperbaiki sindrom metabolik. Perubahan diet diharapkan dapat membantu menurunkan kadar gula darah yang tinggi dan tekanan darah yang tinggi. Diet yang banyak mengandung buah, sayur biji-bijian, lemak tak jenuh, dan susu rendah lemak bermanfaat pada sebagian besar pasien dengan Sindrom Metabolik.

Bagi orang yang dicurigai tekena Sindrom Metabolik hendaklah dilakukan serangkaian pemeriksaan dengan datang ke dokter dan dokter akan menggali informasi tentang riwayat penyakit sebelumnya, riwayat penyakit keluarga, riwayat adanya peningkatan berat badan, aktifitas fisik harian yang dilakukan, dan pola makan sehari-hari. Setelah dokter menggali informasi tersebut, maka dokter akan melakukan serangkaian pemeriksaan fisik, beberapa diantaranya adalah pengukuran tinggi badan, berat badan dan tekanan darah, serta pengukuran lingkar pinggang. Selanjutnya dokter akan melakukan serangkain pemeriksaan laboratorium.

Medscape pada tahun 2012 menyarankan pemeriksaan laboratorium awal pada pasien yang diduga menderita Sindrom Metabolik. Pemeriksaan laboratorium tersebut harus mencakup penilaian gangguan fungsi ginjal, kadar gula darah, serta pemeriksaan lemak tubuh seperti trigliserid dan kolesterol. Mengingat berbagai hubungan antara Sindrom Metabolik dengan kondisi penyakit lain, perlu juga dilakukan pemeriksaan tambahan seperti pemeriksaan darah, hormon gondok, hemoglobin-A1C dan fungsi hati. Kadar asam urat darah juga perlu diperiksa karena peningkatan kadar asam urat dalam darah tampaknya jauh lebih umum pada pasien dengan Sindrom Metabolik dibandingkan pada masyarakat yang sehat. Pemeriksaan ultrasonography (USG) perut juga diperlukan untuk mendiagnosis adanya penimbunan lemak dalam hati karena kelainan ini dapat dijumpai walaupun tanpa adanya gangguan fungsi hati. Pemeriksaan rekam jantung atau electrocardiography (ECG) bisa dilakukan jika terdapat keluhan seperti nyeri dada atau sesak napas.

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa Sindrom Metabolik juga bisa berhubungan dengan osteoporosis, maka deteksi dini osteoporosis dapat dilakukan dengan tes kepadatan tulang yang disebut bone mineral densitometri (BMD) yang dapat menentukan apakah Anda memiliki osteoporosis atau berisiko osteoporosis sebelum terjadi patah tulang. Pemeriksaan lain yang dapat dilakukan untuk mengetahui keadaan osteoporosis adalah dengan pemeriksaan petanda tulang. Petanda tulang yang terdapat pada darah dapat untuk mengetahui risiko patah tulang dan memantau keberhasilan terapi dalam 3-6 bulan, berbeda dengan BMD dalam 1-2 tahun.  Beberapa petanda tulang yang dapat dikerjakan di laboratorium klinik yang canggih seperti di laboratorium Pramita adalah Osteocalcin (n-mid osteocalcin) dan B-crosslaps (β-Ctx .

Sindrom Metabolik memang dapat ditatalaksana untuk mencegah komplikasi yang berlanjut dengan gaya hidup yang ketat, meliputi diet, latihan fisik dan obat-obatan. Namun, lebih baik kita waspada dengan melakukan serangkaian pemeriksaan untuk deteksi dini Sindrom Metabolik.

BAca Juga: Alasan Kenapa beli disini?